Bubur Suro, Ungkapan Syukur Sambut Tahun Baru Islam oleh Masyarakat Jawa, Ternyata Terkait Nabi Nuh

  • Whatsapp


Bubur Suro, Ungkapan Syukur Sambut Tahun Baru Islam oleh Masyarakat Jawa, Ternyata Terkait Nabi Nuh

Menyambut datangnya Tahun Baru Islam 2022 atau 1 Suro, banyak tradisi yang dilakukan oleh masyarakat khususnya masyarakat Jawa.

Secara turun-temurun, masyarakat Jawa menyambut Tahun Baru Islam atau 1 Suro dengan membuat Bubur Suro.

Bubur suro merupakan bentuk rasa syukur masyarakat jawa dalam menyambut tahun baru islam atau 1 suro, dengan membagikan bubur.

Kisah Nabi Nuh dan Tradisi Jawa Mengucap Syukur Menyambut Tahun Baru Islam, bulan Muharram atau Asyura ini memiliki banyak keutamaan dan peristiwa dalam sejarah umat Islam.

Peristiwa itu berupa Nabi Musa selamat dari kejaran Fir’aun, Nabi Ibrahim selamat dari kebakaran Raja Zamrud, hingga Nabi Nuh yang selamat dari banjir bandang.

Untuk mengetahui asal usul atau sejarah Bubur Suro, simak penjelasannya di bawah ini, dari channel YouTube Spirit of 5 Ages yang diunggah pada 22 Agustus 2022 berjudul “Sejarah Asal Usul Bubur Suro Dalam Tradisi Islam” .

Saat menyambut bulan Suro, masyarakat Jawa memiliki tradisi membagikan Bubur Suro pada 10 hari pertama bulan Asyura yang sudah menjadi warisan turun temurun dan budaya.

Walaupun di berbagai daerah terdapat perbedaan dalam membuat Bubur Suro, namun pada dasarnya bahan dari Bubur Suro ini adalah sama.

Bubur suro merupakan makanan berupa bubur dengan bahan dasar beras, garam, dan air. Kemudian bagian atasnya disiram dengan santan. Agar lebih nikmat, bagian atasnya ditaburi lauk pauk.

Topping pelengkapnya adalah irisan tahu, kacang goreng, tempe, telur dadar, kentang, ayam, tuna, dan lain-lain.

Meski terdapat perbedaan penyajian di berbagai daerah, pada dasarnya bubur ini dibuat untuk memperingati datangnya bulan Muharram, sebagai bentuk rasa syukur atas nikmat yang Allah berikan di muka bumi ini.

Asal Usul Bubur Suro berawal dari kisah Nabi Nuh AS. Nabi Nuh AS mendapat perintah untuk menanam pohon jati yang akan dijadikan bahtera.

Kemudian ketika bahtera selesai, Nuh AS memerintahkan para pengikutnya dan hewan peliharaan mereka untuk naik ke bahtera.

Tak disangka, terjadi banjir bandang selama 40 hari dan Bahtera Nuh telah menyelamatkan seluruh penumpangnya.

Tepat pada tanggal 10 Muharram, Bahtera Nabi Nuh terdampar di sebuah gunung, dan semua perbekalan telah habis. Kemudian Nabi Nuh AS memerintahkan untuk membuat makanan dari sisa biji tersebut sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah SWT.

Tak disangka, terjadi banjir bandang selama 40 hari dan Bahtera Nuh telah menyelamatkan seluruh penumpangnya.

Tepat pada tanggal 10 Muharram, Bahtera Nabi Nuh terdampar di sebuah gunung, dan semua perbekalan telah habis. Kemudian Nabi Nuh AS memerintahkan untuk membuat makanan dari sisa biji tersebut sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah SWT.

Kemudian sisa makanan dan biji-bijian disebut Bubur Suro. Bubur suro merupakan salah satu bentuk ungkapan rasa syukur manusia atas keselamatan yang telah diberikan oleh Allah SWT.

Hingga saat ini tradisi turun temurun Bubur Suro masih berkembang di pulau Jawa dan telah menjadi tradisi budaya umat Islam Jawa, sebagai bentuk rasa syukur dan saling berbagi antar sesama.

Related posts