Daftar Politisi yang Terseret Kasus Hambalang, Siapa yang Hukumannya Paling Berat?

Masih ingatkah Anda dengan kasus dugaan korupsi di Wisma Atlet Hambalang yang terjadi sekitar sepuluh tahun lalu? Kasus ini terjadi pada masa pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Korupsi Hambalang yang diduga merugikan negara sekitar triliunan rupiah menyita perhatian publik saat itu.

Satu per satu politisi Partai Demokrat yang diduga berada di balik kasus Hambalang dipanggil Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) untuk dimintai keterangan. Beberapa bahkan dinyatakan bersalah dan dijatuhi hukuman penjara.

Publik sepertinya kembali teringat kasus besar ini, setelah salah satu tersangka kasus Hambalang, Angelina Sondakh, dibebaskan dari penjara, setelah 10 tahun menjalani hukumannya.

Sebagian publik penasaran, dimanakah sosok lain yang sudah divonis penjara? siapa sajakah karakter-karakter tersebut? berikut ini meliputi:

1. Angelina Sondakh

Pada tahun 2013 Angelina divonis bersalah setelah terbukti menerima suap sebesar Rp. 2,5 miliar dan US$ 1,2 juta, saat pembahasan anggaran di Kementerian Pemuda dan Olahraga serta Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Awalnya ia divonis 4,5 tahun penjara dan denda Rp 250 juta. Namun, hukumannya ditingkatkan pada tingkat kasasi.

Angelina divonis 12 tahun penjara dan membayar denda Rp. 500 juta dan diwajibkan membayar ganti rugi sekitar Rp. 2,58 miliar.

Setelah meninjau proposal Angelina, hakim mengabulkannya dan dia divonis 10 tahun penjara dan denda Rp. 500 juta.

2. Andi Malarangeng

Kader Partai Demokrat lainnya yang tersapu kasus Hambalang adalah Andi Malarangeng. Di era pemerintahan Presiden SBY, ia menjabat sebagai mantan Menteri Pemuda dan Olahraga.

Pada Juli 2014, Andi ditetapkan sebagai tersangka dan divonis 4 tahun penjara serta denda Rp. 200 juta.

Andi Malarangeng dipenjara di Lapas Sukamiskin, dan pada 2017 dibebaskan dan bergabung kembali dengan Partai Demokrat sebagai Sekretaris Majelis Tinggi.

3. Anas Urbaningrum

Mantan Ketua Umum Partai Demokrat Anas Urbaningrum diseret dalam kasus Hambalang dan ditetapkan sebagai tersangka.

Nama Anas sempat terseret setelah pernyataan mantan bendahara Partai Demokrat Nazzaruddin Umar pada 2011.

Anas terbukti mendapat gratifikasi sebesar Rp5,3 miliar dan US$36.070 dari kelompok permainan. Dan uang itu digunakan sebagai pencalonannya sebagai Ketua Umum Partai Demokrat.

Uang yang digunakan dalam pencalonan tidak terbukti dan Anas divonis 8 tahun penjara, lebih rendah dari vonis sebelumnya yakni 14 tahun penjara.

4. Nazaruddin

Nazaruddin menjabat sebagai Bendahara Umum Partai Demokrat. Setahun menjabat, ia ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus Wisma Atlet Hambalang.

Nazar diduga terlibat suap pembangunan Wisma Atlet Hambalang untuk SEA GAMES ke-26. Dia sempat melarikan diri ke luar negeri, tetapi akhirnya ditangkap di Cartagena de Indias, Columbia.

Nazaruddin terbukti menerima suap Rp. 4,6 miliar yang diserahkan kepada mantan Manajer Pemasaran PT Duta Graha Indah (DGI) Mohammad El Idris, kepada dua petugas keuangan Permai Group, Yulianis dan Oktarina Fury.

Atas perbuatannya, Nazaruddin divonis 7 tahun penjara. Pada 2016, Nazaruddin dijerat pasal gratifikasi dan pencucian uang.

Dalam kasus pencucian uang, ia divonis 6 tahun penjara. Jika diakumulasikan, total hukuman penjara Nazaruddin adalah 13 tahun.

Kamu juga Bisa Membaca Ramalan ini :