Hari Lingkungan Hidup Sedunia 5 Juni 2022, Satu Bumi untuk Masa Depan

“Only One Earth” adalah tema sentral yang dicetuskan oleh nited Nations Environment Programme (UNEP), sebuah badan internasional di bawah naungan Perserikatan Bangsa-Bangsa, untuk Hari Lingkungan Hidup Sedunia, pada 5 Juni 2022.

Topik tersebut dipilih dengan tujuan mengajak seluruh masyarakat dunia untuk hidup berkelanjutan dan selaras dengan alam.

Swedia, terpilih menjadi tuan rumah Hari Lingkungan Hidup Sedunia, bertepatan dengan peringatan 50 tahun Konvensi Stockholm (1972), yang melahirkan perjanjian internasional pertama, yang berfokus pada perlindungan lingkungan dan kesehatan manusia dari bahan kimia beracun.

Indonesia sendiri bersama ratusan negara lain telah meratifikasi konvensi tersebut melalui undang-undang. Nomor 19 Tahun 2009 tentang Pengesahan Konvensi Stockholm tentang Pencemar Organik yang Persisten.

Manusia tidak dapat dipisahkan dari alam semesta.

Kehidupan manusia selalu bergantung pada alam, jika ekosistem alam rusak maka potensi ancaman terhadap kelangsungan hidup manusia otomatis akan terganggu.

Sebanyak 7,85 miliar manusia melalui berbagai mimpinya mendiami satu bumi. Bumi adalah satu-satunya planet yang dapat dihuni oleh manusia.

Melalui pertumbuhan penduduk yang semakin cepat menurut deret geometri, ekosistem akan semakin kritis jika tidak dibarengi dengan kepedulian untuk terus melestarikan alam.

Pelestarian alam tidak hanya sebatas menanam pohon tetapi juga harus memperhatikan satwa dan ekosistem yang ada di dalamnya. Untuk mendukung keberhasilan tersebut diperlukan komitmen, kerja keras, dan keberlanjutan gerakan penyelamatan alam yang menjadi solusi dan hasil yang terukur.

Hari Lingkungan Hidup sedunia sendiri diputuskan dalam sidang umum PBB bersamaan dengan konferensi lingkungan hidup di Stockholm, Swedia, 5-16 Juni 1972.

Momentum ini ditujukan guna meningkatkan kesadaran global terhadap urgensi guna mengambil tindakan yang positif bagi kelestarian lingkungan.

Disadari bahwa problema lingkungan di sebuah negara bakal menimbulkan efek domino di negara atau wilayah lain.

Salah satu kerusakan lingkungan yang wajib fokus diantisipasi adalah perubahan iklim. Hal terakhir ini akibat pemanasan global telah memberi berbagai dampak terhadap kehidupan.

Gejala ini ditandai antara lain dengan meningkatnya frekuensi curah hujan dengan intensitas yang sangat tinggi, ketidakpastian musim hujan dan kemarau, serta timbulnya berbagai bencana, seperti kekeringan, banjir, badai, maupun longsor.

Tepatlah apa yang dikemukakan oleh Thomas Friedman dalam Hot, Flat, and Crowded bahwa dunia bakal lebih panas, rata, dan penuh sesak.

Penulis yang juga pernah melucurkan karya fenomenal The World is Flat tersebut, melansir bumi kian gerah akibat laju peningkatan emisi gas rumah kaca ke atmosfer yang menghambat pelepasan udara panas ke angkasa.

Bumi menjadi rata via inovasi teknologi komunikasi yang memungkinkan siapa pun, di mana pun, dan kapan pun dapat terkoneksi secara cepat dan mudah,sehingga seolah-olah bumi ibarat berada di atas sebuah pinggan yang datar.

Sebaliknya bumi pun makin penuh sesak diakibatkan ledakan pertambahan penduduk yang tak terkendali lewat penekanan angka mortalitas.

Sudah tiba saatnya kita untuk berhenti berwacana dan menempuh langkah konkret mengubah gaya hidup demi penyelamatan alam. Hal mana dapat dimulai dari diri sendiri, dari hal terkecil, dan dilakukan saat ini juga.

Pada akhirnya, beberapa upaya nyata dapat kita lakukan, antara lain 3R (reduce, reuse, recycle), menanam tanaman makanan di halaman rumah, atau memilih makanan organik yang tidak mempergunakan bahan kimia.

Jika kita tidak mau berubah, maka alam yang akan mengubah kita. Alam mulai tidak lagi bersahabat dengan kita. Selamatkan alam dan jadikan setiap hari sebagai hari lingkungan hidup guna terus menjaga kelestarian alam.

Ikuti berita Ramal.id hari ini, terbaru dan terkini. Anda bisa bergabung mengikuti Ramal.id di Google News pada tautan ini.

Kamu juga Bisa Membaca Ramalan ini :