Hukum Berhubungan Suami Istri di Bulan Ramadan

Puasa tidak selalu berjalan mulus. Terkadang godaan dan cobaan datang silih berganti. Dikutip dari nu.or.id, salah satu cobaan terberat adalah ketika nafsu untuk berhubungan intim datang. Padahal sunset masih lama datangnya. Jika tidak dapat dihindari, maka tebusan atas kesalahan itu harus segera diberikan. Pada dasarnya berhubungan badan boleh saja dilakukan di bulan suci Ramadhan, namun harus pada waktu yang tepat. Yaitu setelah waktu berbuka sampai belum terbit fajar, yang merupakan tanda dimulainya puasa.

Namun, ketika keinginan untuk berhubungan seks dengan suami atau istri datang di siang hari, maka mereka diharuskan membayar denda atau Kaffarah (tebusan).

Sedangkan untuk pelanggaran puasa berupa persetubuhan (jima’) ada tiga macam. Ketiganya tidak bisa dipilih salah satu, tetapi harus dilakukan secara berurutan. Pertama, bebaskan budak. Kedua, puasa dua bulan berturut-turut. Dan yang ketiga memberikan paket kepada 60 orang miskin. 1 lumpur (60 ons) masing-masing makanan pokok. Karena dalam konteks sekarang, sanksi pertama tidak mungkin, karena saat ini sudah tidak ada lagi perbudakan. Kemudian sanksi kedua harus dilaksanakan kecuali ada halangan yang dibenarkan oleh syariat.

Maka sanksi ketiga menjadi tebusan terakhir, yaitu memberikan 60 paket sembako yang masing-masing seberat 60 ons.

Namun seringkali mereka yang paham hukum akan berusaha menghindari ketiga jenis tebusan tersebut. Dengan berbuka puasa terlebih dahulu (baik dengan makan atau minum) sebelum berhubungan seks. Dengan harapan terhindar dari kekafiran ini. Jangan berpikir bahwa dengan cara ini kamu bisa lolos dari hukuman.

Kamu juga Bisa Membaca Ramalan ini :