Hukum Mengucapkan Selamat Natal Bagi Umat Muslim

  • Whatsapp


Hukum Mengucapkan Selamat Natal Bagi Umat Muslim

Sebagian ulama mengatakan haram mengucapkan selamat natal, sebagian lainnya memperbolehkan dengan berbagai alasan.

Hukum mengucapkan “Selamat Natal” dalam Islam masih menjadi pertanyaan sebagian besar masyarakat muslim serta perbedaan pendapat para ulama.

Read More

Menurut para ulama, tidak ada satu pun ayat Al-Qur’an dan hadits Nabi yang secara jelas dan tegas menjelaskan tentang larangan atau kebolehan mengucapkan Selamat Natal.

Padahal, kondisi sosial pada masa Nabi Muhammad hidup berdampingan dengan Yahudi dan Nasrani. Oleh karena itu, kondisi ini termasuk dalam kategori masalah ijtihad. Artinya, isu yang masih diperdebatkan tidak boleh dibantah atau ditolak.

Fatwa Yang Mengharamkan

1. Fatwa Syekh Al-‘Utsaimin

Sebagaimana terdapat dalam kitab Majma’ Fatawa Fadlilah Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin, (Jilid.III, h.44-46, No.403), disebutkan bahwa:

“Memberi selamat kepada mereka hukumnya haram, sama saja apakah terhadap mereka (orang-orang kafir) yang terlibat bisnis dengan seseorang (muslim) atau tidak. Jadi jika mereka memberi selamat kepada kita dengan ucapan selamat hari raya mereka, kita dilarang menjawabnya, karena itu bukan hari raya kita, dan hari raya mereka tidaklah diridhai Allah”.

2. Fatwa Ibnul Qayyim Dalam kitabnya Ahkamu Ahlidz Dzimmah beliau berkata:

“Adapun mengucapkan selamat berkenaan dengan syi’ar-syi’ar kekufuran yang khusus bagi mereka adalah haram menurut kesepakatan para ulama. Alasannya karena hal itu mengandung persetujuan terhadap syi’ar-syi’ar kekufuran yang mereka lakukan”.

Fatwa Yang Memperbolehkan

1. Fatwa Dr. Yusuf Al-Qaradawi Syeikh Dr. Yusuf Al-Qaradawi mengatakan bahwa merayakan hari raya agama adalah hak masing-masing agama. Selama tidak merugikan agama lain. Dan termasuk hak tiap agama untuk memberikan selamat saat perayaan agama lainnya.

Maka kami sebagai pemeluk Islam, agama kami tidak melarang kami untuk untuk memberikan selamat kepada non muslim warga negara kami atau tetangga kami dalam hari besar agama mereka. Bahkan perbuatan ini termasuk ke dalam kategori al-birr (perbuatan yang baik). Sebagaimana firman Allah SWT:

“Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.”(QS. Al-Mumtahanah: 8)

Kebolehan memberikan selamat ini terutama bila pemeluk agama lain itu juga telah memberikan selamat kepada kami dalam perayaan hari raya kami.

“Apabila kamu diberi penghormatan dengan sesuatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik dari padanya, atau balaslah penghormatan itu. Sesungguhnya Allah memperhitungkan segala sesuatu.” (QS. An-Nisa’: 86)

2. Fatwa Dr. Mustafa Ahmad Zarqa’

Dr. Mustafa Ahmad Zarqa’, menyatakan bahwa tidak ada dalil yang secara tegas melarang seorang muslim mengucapkan selamat kepada orang kafir.

Ia mengutip sebuah hadits yang menyebutkan bahwa Rasulullah SAW pernah berdiri menghormati mayat Yahudi. Penghormatan dengan berdiri ini tidak ada hubungannya dengan pengakuan kebenaran agama yang dianut oleh jenazah.

Jadi menurutnya, ucapan selamat kepada saudara-saudara umat Kristiani yang sedang merayakan hari besarnya bukan terkait dengan pengakuan kebenaran keyakinannya, melainkan hanya bagian dari mujamalah dan muhasanah seorang muslim kepada sahabat dan kolega yang kebetulan berada di lingkungannya agama yang berbeda Wallahu A’lam

Dari perbedaan pendapat ke.dua ulama di atas, masing-masing memiliki landasan yang baik dengan bersandar pada Al-Quran dan hadits Nabi SAW. Dan tentunya juga diharapkan agar perbedaan tersebut tidak menjadi sumber konflik atau perpecahan dalam kehidupan bermasyarakat.

Related posts