Indra Kenz dan Doni Salmanan, Tersangka Penipuan “Binary Option” yang Diduga Lakukan Pencucian Uang

JAKARTA, – Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) Polri saat ini tengah menangani kasus dugaan tindak pidana perjudian online dan pencucian uang oleh dua orang influencer, yakni Indra Kesuma alias Indra Kenz dan Doni Muhammad Taufik alias Doni Salmanan. Kedua orang tersebut dilaporkan ke polisi terkait penipuan investasi penipuan berkedok opsi biner. Keduanya dikenal sebagai mitra aplikasi dengan kedok opsi biner dari platform yang berbeda.

Pada 3 Februari 2022, 8 korban melaporkan Indra Kenz ke Direktorat Tindak Pidana Ekonomi Khusus (Dittipideksus) Bareskrim terkait penipuan melalui aplikasi Binomo. Pada tanggal yang sama, Doni dilaporkan oleh orang berinisial RA ke Direktorat Kejahatan Dunia Maya (Dittipidsiber) Bareskrim terkait penipuan melalui aplikasi Qoutex. Penyidik ​​Bareskrim Dittipidekus kemudian menetapkan Indra sebagai tersangka dalam kasus penipuan Binomo setelah diperiksa selama 7 jam pada 24 Februari 2022. Sekitar dua minggu kemudian, penyidik ​​Dittipidsiber menetapkan Doni Salmanan sebagai tersangka dalam kasus penipuan aplikasi Qoutex pada 8 Maret. dengan ML Setelah menjadi tersangka, Doni dan Indra langsung ditahan selama 20 hari pertama di Bareskrim Polri.

Indra Kenz dijerat Pasal 45 ayat 2 dan 1 jo Pasal 27 ayat 2 jo Pasal 28 ayat 1 UU ITE. Tambahan Pasal 3, Pasal 5, dan Pasal 10 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU). Kemudian Pasal 378 KUHP jo Pasal 55 KUHP. “Ancaman hukuman bagi yang bersangkutan (Indra Kenz) 20 tahun,” kata Ramadhan kepada wartawan, Kamis (24/2/2022). Untuk Doni Salmanan dijerat Pasal 45 ayat 1 junto 28 ayat 1 UU ITE, Pasal 378 KUHP, Pasal 3 Ayat 3 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2010 tentang Pencucian Uang dan Penelusuran Harta Kekayaan Terkait dua kasus tersebut, polisi akan menelusuri aset para tersangka.

Polisi mengatakan akan melacak aset Doni. Pelacakan aset akan dilakukan untuk mengetahui aliran dana dan kemudian melakukan penyitaan aset terkait kasus penipuan melalui aplikasi Qoutex.

Kasubdit I Dittipidsiber Bareskrim Polri, Kombes Reinhard Hutagaol juga menyatakan, pemblokiran dilakukan berkoordinasi dengan Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK). “Sudah (ada akun yang diblokir),” kata Reinhard, Selasa (8/3/2022) malam. Begitu pula dengan Indra, polisi hingga Rabu (9/3/2022), penyidik ​​Dittipieksus Bareskrim Polri telah menyita sejumlah aset barang dari Indra Kenz antara lain satu mobil Tesla, satu mobil Ferrari, dan dua rumah mewah yang berada di Medan. Selain itu, polisi juga menyatakan bahwa 4 rekening Indra yang berisi uang puluhan miliar telah diblokir. Direktur Tindak Pidana Ekonomi Khusus (Dirtipideksus) Bareskrim Polri Brigjen Whisnu Hermawan mengatakan pihaknya juga akan menyita aset lain milik Indra Kenz. “Masih banyak (akan disita), termasuk nanti di BSD, Tangerang. Nanti Pak Karo Penmas akan diekspos,” kata Whisnu kepada wartawan, Rabu (9/3/2022). Selain itu, penyidik ​​juga akan melacak aliran dana hasil tindak pidana pencucian uang dari aplikasi Binomo kepada orang-orang terdekat Indra, termasuk keluarga dan pacarnya.

Pacar Indra Kenz, Vanessa Khong (VK) juga telah dipanggil dan dimintai keterangan oleh Bareskrim Dittipideksus pada 8 Maret. Indra dikabarkan berjanji akan memberikan Vanessa Rp. 2 milyar, tapi hanya Rp. 10 juta sudah diterima. “Dalam pengajuannya, dia berjanji akan mendapat sekitar Rp 2 miliar, tapi yang diterima hanya Rp 10 juta,” kata Kepala Bagian Penerangan Masyarakat (Kabag Penum) Divisi Humas Polri Kombes Gatot. Repli Handoko, kepada wartawan, Rabu (9/3/2022). Kemudian, polisi juga telah mengagendakan pemeriksaan calon mertua Indra Kenz berinisial RP pada 15 Maret 2022. Korban janji untung Dalam kasus penipuan melalui aplikasi Binomo, Indra selaku mitra aplikasi telah mempromosikan Aplikasi Binomo melalui media sosialnya dengan menawarkan sejumlah keunggulan. Selain itu, Indra dalam media sosialnya juga mengatakan telah mengklaim bahwa aplikasi Binomo legal di Indonesia. Bahkan, permohonan itu dinyatakan ilegal oleh Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bapebti).

Dia juga terus memamerkan keuntungan mereka saat menggunakan aplikasi. Bahkan, pihak terlapor juga mengajarkan strategi trading di aplikasi tersebut. “Dan teruslah memamerkan hasil keuntungannya, lalu para korban ikut-ikutan dari yang mendapat untung sampai mereka selalu “Dia memberikan kabar bohong bahwa dia sedang mempermainkan saya, lalu dari video tersebut dia justru menipu orang untuk bermain dan kenyataannya tidak ada yang pernah menang,” kata Rainhard kepada wartawan, Selasa (8/3/2022) malam.

Menurutnya, anggota yang menjadi korban dimasukkan ke dalam grup aplikasi Telegram kemudian diajak menggunakan Qoutex dengan kode referral Doni. Setidaknya ada sekitar 25.000 anggota aktif di grup Telegram yang diduga bermain Qoutex menggunakan kode referral Doni Salmanan. Selain itu, Reinhard juga mengungkapkan bahwa Doni diperkirakan memperoleh sekitar 80 persen dari kerugian anggotanya. Namun, polisi masih belum mengumumkan jumlah kerugian korban karena masih dalam proses penyelidikan. “Dapatkan 80 (persen) dari kerugian (anggota Quotex lainnya),” kata Reinhard.

Kamu juga Bisa Membaca Ramalan ini :