Tafsir Surat Al Kautsar, Surat Terpendek dalam Al-Qur’an

  • Whatsapp


Tafsir Surat Al Kautsar, Surat Terpendek dalam Al-Qur'an

Setiap Muslim tahu bahwa Surat Al Kautsar adalah surat terpendek dalam Al Qur’an.

Surat Al Kautsar hanya terdiri dari tiga ayat. Artinya, tidak ada surat yang lebih pendek dari surat yang memiliki arti banyak nikmat.

Karena begitu pendek, Surah Al Kautsar dianggap paling mudah untuk dihafal oleh umat Islam. Apalagi pengucapannya dalam bahasa Arab cukup mudah.

Tafsir surat Al Kautsar bisa didapati dalam sejumlah kitab tafsir, seperti Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir Fi Zhilalil Quran, Tafsir Al Azhar, Tafsir Al Munir, hingga Tafsir Al Misbah.

Ayat pertama

إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ .

Artinya: Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak

Pada ayat pertama ini, terdapat dua kata kunci. Yang pertama adalah a’thainaaka (أعطينك). Kata ini berasal dari kata a’tha (أعطى) yang berarti memberi. Kata ini biasa digunakan sebagai pemberian seseorang yang menjadi milik pribadinya.

Kata kunci kedua adalah kata Al Kautsar yang berasal dari kata katsir (كثير). Artinya, banyak. Kata katsir bisa digunakan untuk menunjuk sesuatu yang banyak, bisa pula menunjuk sesuatu yang bernilai tinggi.

Tapi ada juga yang memaknai kata Al Kautsar dalam surat terpendek ini sebagai sungai di surga. Hujjahnya menggunakan hadits-hadits sejenis yang menerangkan Al Kautsar.

Ada juga yang berpendapat bahwa makna kata ini dalam surat terpendek dalam Al-Qur’an adalah keturunan Rasulullah sangat banyak, dan menjadi lawan kata abtar pada ayat terakhir.

Ada pula yang memaknai kata kunci ini sebagai nikmat yang banyak. Namun lebih jauh lagi, Al Kautsar merupakan banyaknya nikmat yang diberikan Allah kepada Rasulullah, seperti keturunan yang banyak dan telaga al kautsar di surga.

Ayat kedua

فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ .

Artinya: Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berkorbanlah.

Pada ayat kedua ini juga memiliki dua kata penting. Yakni kata shalli (صل) bentuk perintah dari shalat (صلاة), dan kata inhar (انحر) berasal dari kata nahr (نحر) berarti pangkal leher, atau sekitar tempat meletakkan kalung.

Dari arti nahr itulah muncul makna penyembelihan. Sebab menyembelih unta itu dilakukan di pangkal leher.

Adapun Qatadah, Atha’ dan Ikrimah menjelaskan, ayat ini membahas tentang mendirikan shalat idul adha dan menyembelih hewan qurban.

Sementara Ibnu Jarir memberikan makna bahwa jadikan seluruh shalatmu untuk Tuhanmu, dengan niat ikhlas hanya kepada-Nya, tidak kepada siapapun selain-Nya.

Pun jadikan hewan sembelihanmu hanya untuk-Nya, bukan untuk berhala-berhala. Itu semua kamu lakukan demi rasa syukur atas segala yang telah Dia berikan kepadamu berupa kemuliaan dan kebaikan yang tiada tandingannya. Dia mengkhususkan hal itu hanya untukmu.

Ayat ketiga

إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْأَبْتَرُ

Artinya: Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu dialah yang terputus.

Pada ayat ini terdapat kata syani’aka (شانئك) asal kata syana’aan (شنآن) yang berarti kebencian.

Kata ini digunakan dalam rangka menunjukkan kebencian yang bukan pada tempatnya dan lahir dari iri hati.

Ayat pertama dan ketiga ini saling berkaitan, dimana satunya menetapkan Rasulullah bukan orang yang terputus dari nikmat Allah. Sementara ayat terakhir menegaskan, pembencinya yang terputus dari nikmat Allah.

Penutup Tafsir

Surat Al Kautsar merupakan surat yang menjelaskan bahwa Allah memberikan nikmat yang banyak kepada Nabi Muhammad, yang di antaranya adalah Allah telah memberikan keturunan yang banyak kepada Rasulullah dan telaga kautsar di surga nanti.

Surat ini memberikan arahan agar Nabi Muhammad mensyukuri nikmat itu dengan shalat dan berqurban. Shalat yang semata-mata karena Allah dan berqurban juga untuk Allah.

Surat ini juga menjadi salah satu mukjizat bukti akan kebenaran Nabi Muhammad. Manakala ada orang atau siapapun yang membenci Nabi Muhammad, maka dia akan terputus dari kebaikan dan rahmat Allah, di dunia dan akhirat.

Memang penuturan tentang tafsir surat Al Kautsar ini kami yakini belum lengkap dan ideal. Namun kami berharap catatan tafsir ini bisa memotivasi kita semua untuk terus belajar Al-Qur’an.

Related posts